Mau Dapat Uang Silahkan Daftar

News Update :
Home » , » LAPORAN PRAKTIKUM : KEKENTALAN DAN TENAGA PENGAKTIFAN

LAPORAN PRAKTIKUM : KEKENTALAN DAN TENAGA PENGAKTIFAN

Penulis : bantal Cinta on Wednesday, November 21, 2012 | 10:52 PM

LAPORAN PRAKTIKUM
TERMODINAMIKA KIMIA


KEKENTALAN DAN TENAGA PENGAKTIFAN













NamaPraktikan            : Solehan.com
NIM                            : 8927326
Kelompok                   : 1 (satu)
Fak/Jurusan                 :DUNIA
Nama asisten               :





LABORATORIUM KIMIA FISIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JAGAD RAYA
2010





BAB.1 PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kekentalan adalah sifat dari suatu zar cair (fluida) disebabkan adanya gesekan antara molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair tersebut. Gesekan-gesekan inilah yang menghambat aliran zat cair. Besarnya kekentalan zat cair (visikositas) dinyatakan dengan suatu bilangan yang kmenentukan kekentalan suatu zat cair.
Suatu zat cair memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang dimasukan kedalammya mendapat gaya tahanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan sebuah bola kecil kedalam zat cair, terlihatlah batu tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian melambat hingga akhirnya sampai didasar zat cair. Bola kecil tersebut pada saat tertentu akan mengalami sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola kecil menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki zat cair sehingga kecepatan bola berubah. mula-mula akan mengalami percepatan yang dikarenakan gaya beratnya tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besar percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada saat tersebut kecepatan bola tetap dan disebut kecepatan terminal. Hambatan-hambatan dinamakan sebagai kekentalan (viskositas). Akibat viskositas zat cair itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan yang cukup drastis terhadap kecepatan batu.

1.2              Rumusan Masalah
1.  Bagaimana pengaruh angka kental relatif suatu zat cair dengan menggunakan air sebagai pembanding ?
2.  Bagaimana menentukan tenaga pengaktifan cairan ?
3.  Bagaimana perbandingan angka kekentalan zat cair dengan kedua metode ?



BAB.2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1      Materials Safety Data Sheet (MSDS) Bahan
2.1.1    Aseton (CH3COCH3)
Aseton merupakan senyawa liquid yang tidak berwarna dan baunya menyerupai campuran etanol dan aseton serta rasanya bitter. Aseton memiliki berat molekul : 60.1 g/mol ; Titik didih : 82.5°C (180.5°F) ; Titik leleh :  -88.5°C (-127.3°F) ; Suhu kritis : 235°C (455°F) ; Tekanan uap : 4.4 kPa (@ 20°C) ; Massa jenis uap : 2.07 (Air = 1) ; pH : 1% dalam air . Aseton Mudah larut dalam air dingin, air panas, metanol, oktanol, aseton, larut dalam garam, larut dalam benzene(Anonim, 05 November 2010).

2.1.2    Alkohol
Nama lainnya adalah etanol, senyawa ini merupakan liquid yang tidak berwarna dan mudah menguap pada suhu rendah serta mudah terbakar pada suhu tinggi. Alkohol memiliki rumus molekul CH3OH. Alkohol memiliki kerapatan : 0,79 g/cm³ ; titik didih : 78°C (351K). Alkohol dapat bercampur dengan air dan mudah bercampur dengan pelarut organik(Anonim, 05 November 2010).


2.1.3    Air (H2O)
Nama IUPAC             : Dihydrogen monoxide, Oxidane
Nama Lain                  : Hydroxylic acid, Hydrogen Hydroxide,  R-718
Merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau pada Keadaan standar
Sifat :
(Anonim, 05 November 2010)
2.2       viskositas
Viskositas suatu cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas(Bird, 2003:57).
Viskositas adalah indek hambatan alir cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Viskositas ini juga di sebut sebai kekentalan suatu zat. Jumlah volume cairan yang mengalir melalui pipa per satuan waktu :

η          = viskositas cairan
V         = total volume cairan
t           = waktu yanf bibutuhkan untuk mengalir
P          = tekanan yang bekerja pada cairan
L          = panjang pipa
(Bird, 1993:57)
Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas dispersi kolodial dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase dispers. Koloid-koloid berbentuk bola membentuk sistem dispersi dengan viskositas rendah, sedang sistem dispersi yang mengandung koloid-koloid linier viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel(Moechtar,1990:257).
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas cairan justru akan menurun jika temperatur dinaikan. Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan kebalikan dari viskositas akan meningkat dengan makin tingginya temperatur(Martin, 1993:258).
Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar untuk mengalir dari pada gas. Viskositas gas bertambah dengan naiknya temperatur, sedangkan viskositas cairan turun dengan naiknya temperatur. Koefisien viskositas gas pada tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan naik dengan naiknya tekanan(Sukarjo, 1997:108).

2.3             Cara-cara Penentuan Viskositas
2.3.1       Viskometer kapiler / Ostwald
Pada viskometer oswald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Pada percobaan sebenarnya, sejumlah tertentu cairan (misalnya 10 cm3, bergantung pada ukuran viskometer) dipipet ke dalam viskometer. Cairan kemudian dihisap melalui labu pengukur dari viskometer sampai permukaan cairan lebih tinggi daripada batas a. Cairan kemudian dibiarkan turun. Ketika permukaan cairan turun melewati batas a, stopwatch mulai dinyalakan dan ketika cairan melewati batas b, stopwatch dimatikan. Jadi waktu yang dibutuhkan cairan untuk melalui jarak antara a dan b dapat ditentukan. Tekanan P merupakan perbedaan tekan antra kedua ujung pipa U dan besarnya disesuaikan sebanding dengan berat jenis cairan.

(Respati, 1981:94 -95)


Berdasarkan hukum Haegen Poiseuille :
η  = π p r4 t / (8VL) ; p = ρ g h
= π p r4 t ρ g h / (8VL)
Dimana :
P = tekanan hidrostatis
r = jari-jari kapiler
t = waktu alir zat cair sebanyak volume V dengan beda tinggi h
L = penjang kapiler

Untuk air :
ηair = π p r4 ta ρa g h / (8VL)
secara umum berlaku :
ηx = π p r4 tx ρx g h / (8VL)


Jika air digunakan sebagai pembanding maka:
ηx / ηair = tx ρx / ta ρa
(Tim Kimia Fisik. 2010:6).

2.3.2  Viskometer Hoppler
Pada viskositas ini yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah bola logam untuk melewati cairan setinggi tertentu. Suatu benda karena andanya gravitasi akan jatuh melaui medium yang berviskositas (seperti cairan misalnya), dengan kecepatan yang semakin besar sampai mencapai kecepatan maksimum. Kecepatan maksimum akan tercapai bila gravitas sama dengan frictional resistance medium.

(Bird, 1993:59).
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga : gaya gesek = gaya berat, gaya Archimides :
6π r Vmax = 4/3 r3 bola – ρcair) g
η = {2/9 r3bola – ρcair) g} / Vmax
Vmax = h / t
t = waktu jatuh bola pada ketinggian h
Dalam percobaan ini dipakai cara relatif terhadap air,
harganya:
ηa = [2/9 r2a –ρ1) g ta ] / h
ηx = [2/9 r2x –ρ1) g tx ] / h
ηx / ηa = [(ρx –ρ1) tx ] / [ (ρa –ρ1) g ta]
(Tim Kimia Fisik. 2010:6).

2.3.3          Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penemuan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat(Anonim, 05 November 2010).

2.3.4          Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang semit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar(Anonim, 05 November 2010).


BAB.3 METODE PENELITIAN

3.1       Alat dan Bahan
3.1.1    Alat
- Viskosimeter ostwaltz
- Piknometer ber-thermometer 1
- Corong gelas
-Gelas

3.1.2    Bahan
- Air
- Aseton
- Alkohol
- zat X

3.2       Langkah Ketja
3.2.1    Cara Oswald
Zat cair

  • Ditentukan dengan Piknometer dan viskosimeter
  • Dibersihkan terlebih dahulu piknometer dan viskosimeter dengan asam pencuci.
  • Dikeringkan dengan pompa.
  • Dilakukan penimbangan pada piknometer kosong.
  • Diisi dengan air pada suhu yang telah ditentukan dalam piknometer sampai tanda batas.
  • Ditimbang piknometer tersebut pada setiap suhu 20oC, 25 oC, 30 oC, 35 oC, 40 oC.
  • Diisi dengan air secukupnya dalam viskosimeter pada suhu yang telah ditentukan, air dinaikkan lebih tinggi dari tanda paling atas kemudian stopwatch dinyalakan dan dimatikan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
  • Dilakukan pengukurang setiap pada suhu 20oC, 25 oC, 30 oC, 35 oC, 40 oC.
  • HASIL
    Diulangi sebanyak dengan zat lain yaitu: alkohol, aseton








3.2.2    Cara Hoppler





  • Ditentukan rapatnya dengan piknometer.
  • Ditentukan rapat zat cair yang juga dengan piknometer.
  • Dimasukkan bola dalam tabung miring yang telah diisi dengan aquades.
  • Dihidupkan setelah tanda atas stopwatch
  • Dimatikan setelah melewati tanda paling bawah, stopwatch
  • Ditentukan waktu.
  • Diulangi sebanyak 3 kali.
(percobaan A)
  • Dilakukan kembali tetapi dengan tabung terbalik percobaan A diatas.
(percobaan B)
  • Diulangi lagi percobaan A dan B , dengan zat cair lain, yaitu: air, alkohol, aseton, dan zat X
BAB.4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil
4.1.1 Air
NoSuhu (OC)Waktu (s)Massa (gram)Massa jenis (g/mL)Kekentalan (mol K)
1201,08,850,8850,994
2250,808,8390,88390,8937
3300,788,8350,88350,844
4350,708,8310,88310,7225
5400,678,8260,88260,6540

4.1.2    Alkohol
NoSuhu (OC)Waktu (s)Massa (gram)Massa jenis (g/mL)Kekentalan (mol K)
1200,857,620,7620,727
2250,837,6110,76110,798
3300,827,6060,76060,764
4350,807,6020,76020,711
5400,787,5950,75950,655

4.1.3    Aseton

NoSuhu (OC)Waktu (s)Massa (gram)Massa jenis (g/mL)Kekentalan (mol K)
1200,667,6670,76670,568
2250,607,340,7340,557
3300,517,3360,73360,458
4350,497,3320,73320,42
5400,407,3170,73170,32

4.2       Pembahasan
4.2.1    Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas
Viskositas itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, beberapa diantaranya adalah temperatur dan tekanan.
  1. Suhu
Semakin tinggi suhu maka semakin rendah nilai kekentalan.
  1. Tekanan
tekanan akan bertambah jika nilai dari viskositas itu bertambah.

4.2.2    Pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap viskositas
a. Suhu
Semakin tinngi suhu maka semakin rendah nilai viskositasnya. Hal ini disebabkan gaya-gaya kohesi pada zat cair bila dipanaskan akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya temperatur pada zat cair yang menyebabkan berturunnya viskositas dari zat cair tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi suhu maka cairan semakin encer, karena kerapatan komponen penyusun zat cair semakin renggang. Suatu viskositas akan menjadi lebih tinggi jika suhu mengalami penurunan karena pada saat suhu di naikkan maka partikel-partikel penyusun zat tersebut bergerak secara acak sehingga kekentalan akan mengalami penurunan, dan jika suhu mengalami penurunan akan terjadi kenaikan viskositas karena partikel-partikel penyusun senyawa tersebut tidak mengalami gerakan sehingga gaya gesek yang bekerja juga semakin besar.
  1. Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan. Salah satu faktor kekentalan (viskositas) suatu cairan adalah suhu. Menurut ‘teori lubang’, terdapat kekosongan dalam suatu cairan, dan molekul bergerak secara continue kedalam kekosongan ini. Sehingga kekosongan akan bergerak keliling. Proses ini menyebabkan aliran, tetapi memerlukan energi karena ada energi yang harus dimilikii suatu molekul agar dapat bergerak kedalam kekosongan itu. Energi pengaktifan lebih mungkin terdapat pada suhu yang tinggi, dan dengan demikian cairan lebih mudah mengalir pada suhu yang tinggi. Selain itu kerapatan zat cair semakin renggang dengan bertambahnya suhu, sehingga tingkat kekentalannya berkurang.

4.2.3    Cara Penentuan viskositas
Cara penentuan harga kekentalan dalam percobaan ini menggunakan metode Ostwald yang mana prinsip kerjanya berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas disebut viskometer.
Selain cara tersebut juga ada cara selain yaitu metode hoppler, prinsip kerja metode ini berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh bola yang menggelinding diatas zat alir.

4.2.4    Gaya yang menyebabkan zat alir mengalir
Gaya yang menyebabkan zat alir tersebut mengalir adalah adanya gaya gesek antar lapisan material, sehingga viskositas menunjukkan tingkat ketahanan suatu cairan untuk mengalir. semakin kental suatu cairan, maka semakin besar kekuatan yang diperlukan supaya cairan tersebut dapat mengalir dengan laju tertentu.
Gaya-gaya kohesi pada zat cair bila dipanaskan akan mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya temperatur pada zat cair yang menyebabkan berturunnya viskositas dari zat cair tersebut. Sehingga ketika pada suhu tinggi zat alir tersebut mengalir lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah.

4.2.5    Koefisien kekentalan zat cair
Koefisien kekentalan zat cair adalah sifat daya tahan zat cair terhadap aliran cairan. Koefisien kekentalan zat cair dihitung dengan membandingkan waktu yang digunakan zat cair tersebut untuk mengalir dan massa jenis (kerapatan) zat cair tersebut dengan nilai koefisien kekentalan zat cair lain yang telah diketahui. Pada percobaan kali ini digunakan air sebagai pembanding.
Koefisien kekentalan yang telah dihitung, dapat diketahui energi pengaktifan dari ketiga zat (air, alkohol, dan aseton) yaitu dengan membuat grafik antara ln η dan 1/T  sehingga diperoleh persamaan garis untuk air (y = 1942,5x – 6,61), alkohol (y = 590,68x – 2,2648), aseton (y = 2645x – 9,5161).
Dari hasil percobaan didapatkan koefisien kekentalan pada temperatur 20°C, 25°C, 30°C, 35°C, dan 40° untuk air adalah: 0,9770 poise; 0,8937 poise; 0,8270 poise; 0,7225 poise; dan 0,6540 poise. Untuk alkohol adalah 0,7150 poise; 0,7984 poise; 0,7482 poise; 0,7110 poise; dan 0,6552 poise. Untuk aseton adalah 0,5588 poise; 0,5566 poise; 0,4488 poise; 0,4199 poise; dan 0,7569 poise.

4.2.6    Data yang digunakan untuk menentukan kekentalan zat cair
Data-data yang digunakan untuk menentukan kekentan zat cair antara lain : suhu, massa jenis zat cair, waktu pada saat zat cair mengalir.
  1. Data pengaruh suhu
Hasil yang didapatkan dalam percobaan hampir sesuai dengan teori, bahwa harga kekentalan akan berkurang saat suhunya semakin tinggi, yaitu untuk alkohol saat suhunya 25OC harga kekentalanya 0,798 mol K, saat suhunya 30OC harga kekentalanya 0,764 mol K, saat suhunya 35OC harga kekentalanya 0,711 mol K, dan saat suhu 40OC harga kekentalannya 0,655 mol K. Namun pada suhu 20oC didapatkan nilai kekentaalan yang kurang sesuai yaitu 0,727 mol K, nilai tersebut lebih kecil dari pada suhu daripada suhu 25OC dan 30OC.
Sedangkan untuk aseton pada saat suhunya 20OC harga kekentalanya 0,568 mol K, saat suhunya 25OC harga kekentalanya 0,557 mol K, saat suhunya 30OC harga kekentalanya 0,458 mol K, dan saat suhunya 35OC harga kekentalanya 0,42 mol K dan saat suhu 40OC harga kekentalannya 0,32 mol K. Pada aseton didapatkan grafik yang linier namun pada alkohol grafiknya kurang linier, hal itu karena terjadi kesalahan praktikan dalam melakukan pengamatan serta pengukuran atau pun penimbangannya.

  1. Data massa jenis
Massa jenis air mulai suhu 20oC s/d 40 oC : 0,885(g/mL) ; 0,8839(g/mL) ; 0,8835(g/mL) ; 0,8831(g/mL) ; 0,8826(g/mL). Massa jenis alkohol mulai suhu 20oC s/d 40 oC : 0,762(g/mL) ; 0,7611(g/mL) ; 0,7606(g/mL) ; 0,7602(g/mL) ; 0,7595(g/mL). Massa jenis asetonl mulai suhu 20oC s/d 40 oC : 0,7667(g/mL) ; 0,734(g/mL) ; 0,7336(g/mL) ; 0,7332(g/mL) ; 0,7317(g/mL). Mengamati dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa semakin tinggi suhu maka harga massa jenis zat alir semakin kecil. Dengan semakin kecilnya massa jenis maka nilai kekentalan yang didapat semakin kecil pula.

  1. Data waktu yang dibutuhkan zat alir
Suhu air mulai suhu 20oC s/d 40 oC : 1,0s ; 0,80s ; 0,78s ; 0,70s ; 0,67s. Suhu alkohol mulai suhu 20oC s/d 40 oC : 0,85s ; 0,83s ; 0,82s ; 0,80s ; 0,78s. Suhu alkohol mulai suhu 20oC s/d 40 oC :  0,66s ; 0,60s ; 0,51s ; 0,49s ; 0,40s. Semakin rendah suhu maka semakin lama waktu yang diperlukan zat alir tersebut untuk mengalir. Begitu pula untuk kekentalan, semakin tinggi suhu harga kekentalannya maka semakin kecil kekentalanya sehingga gaya gesek antar materialnya semakin kecil, semakin kecil gaya material maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan suatu zat alir untuk mengalir.

4.2.7        Pola kekentalan dan energi pengaktifan dari ketiga zat alir
Pengaruh dari kekentalan terhadap energi pengaktifan suatu aliran adalah  semakin tinggi tingkat kekentalan suatu zat cair maka energi pengaktifan akan semakin kecil sehingga akan memperlambat aliran dari zat tersebut, tetapi jika semakin rendah kekentalan suatu zat cair maka energi pengaktifannya semakin besar dan akan mempercepat aliran. Dari persamaan garis yang diperoleh dari grafik dapat diketahui energy pengaktifan untuk ketiga zat adalah 16,145788 kJ (air) ; 4,90526 kJ (alkohol) ; 21,99053 kJ (aseton). Hal ini menunjukkan aseton yang mempunyai energi pengaktifan lebih besar dibanding kedua zat lainnya. Namun didapatkan hasil energi pengaktifan pada alkohol yang berbeda jauh dari zat alir lainnya. Hal itu disebabkan oleh kesalahan pada praktikan ketika melakukan pengamatan ataupun perhitungannya. Sehingga didapatkan hasil yang kurang sesuai.


BAB.5 PENUTUP

5.1       Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:
  • Kekentalan dari suatu larutan atau fluida dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu larutan tersebut maka harga kekentalan dari larutan tersebut semakin kecil begitu pula sebaliknya.
  • Energi pengaktifan adalah energi yang menyertai perpindahan fluida dari suatu tempat ke suatu aliran yang kosong.
  • Semakin tinggi tingkat kekentalan suatu zat cair maka energi pengaktifan akan semakin kecil sehingga akan memperlambat aliran dari zat tersebut, tetapi jika semakin rendah kekentalan suatu zat cair maka energi pengaktifannya semakin besar dan akan mempercepat aliran.
  • Didapat data yang kurang sesuai dengan literatur pada zat alir alkohol

5.2       Saran
  • Selalu periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna mendapatkan hasil yang lebih akurat.
  • Selalu tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  • Ikuti petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi kesalahan.
  • Usahakan suhu saat penimbangan dijaga agar tetap sehinnga penentuan harga kekentalan dapat mendekati dengan referensi.
  • Usahakan saat pengamatan waktu yang dibutuhkan larutan mengalir tepat sehingga penentuan harga kental dinamis berjalan lancar.



DAFTAR PUSTAKA

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas. Jakarta : PT. Gramedia
Anonim. Air. http://id.wikipedia.org/wiki/air. diakses  05 november 2010.
Anonim. Alkohol. http://msds.chem.ox.ac.uk/AL/alcohol.html. diakses  05 november 2010.
Anonim. Aseton. http://msds.chem.ox.ac.uk/AC/aceton.html. diakses  05 november 2010.
Anonim. Viskometer. http://id.wikipedia.org/wiki/viskometer. diakses  05 november 2010.
Respati. H. 1981. Kimia Dasar Terapan Modern. Jakarta : Erlangga.
Sukardjo. 1995.Termodinamika Kimia. Jakarta : Erlangga.
Tim Penyusun. 2010. Petunjuk Praktikum Termodinamika Kimia. Jember : FMIPA UNEJ.
LAMPIRAN

Perhitungan :

Mencari kekentalan air pada :
suhu 20 oC
y =-0,015x + 1,294
= -0,015(20) + 1,294
= -0,30 + 1,294 = 0,994
suhu 30 oC
y =-0,015x + 1,294
= -0,015(30) + 1,294
= -0,45 + 1,294 = 0,844
Grafik :


Grafik :

Energi pengaktifan :
m =
E  =  m × R
= 1942 mol K × 8,314 J mol-1K-1
= 16145,788 J
= 16,145788 kJ

Rumus kekentalan :      =
  1. Alkohol
    1. Suhu : 20oC
=
=
=
= 0,727

b.    Suhu : 25 oC
=
=
=
= 0,798

c.     Suhu : 30oC
=
=
=
= 0,764

d.    Suhu : 35oC
=
=
=
= 0,711

e.     Suhu : 40oC
=
=
=
= 0,655
Grafik :


Grafik hubungan suhu (1/T) dengan kekentalan (ln ) :

Energi pengaktifan :
m =
E  =  m × R
= 590,6 mol K × 8,314 J mol-1K-1
= 4905,26 J
= 4,90526 kJ

  1. Aseton
    1. Suhu : 20oC
=
=
=
= 0,568
b.    Suhu : 25 oC
=
=
=
= 0,557

c.     Suhu : 30oC
=
=
=
= 0,458

d.    Suhu : 35oC
=
=
=
= 0,42

e.     Suhu : 40oC
=
=
=
= 0,32

Grafik :


Grafik hubungan suhu (1/T) dengan kekentalan (ln ) :

Energi pengaktifan aseton :
m =
E  =  m × R
= 2645 mol K × 8,314 J mol-1K-1
= 21990,53 J
= 21,99053 kJ
Share this article :

Post a Comment

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Jendela Dunia . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger